<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>mirza jaka suryana</title>
	<atom:link href="http://gerakgerik79.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerakgerik79.wordpress.com</link>
	<description>imperfect notes of a humble person</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Oct 2010 17:51:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='gerakgerik79.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/0f06cdf075a730d4c1ee587a768d6492?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>mirza jaka suryana</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://gerakgerik79.wordpress.com/osd.xml" title="mirza jaka suryana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://gerakgerik79.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>links for artist residencies</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/10/22/links-for-artist-residencies/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/10/22/links-for-artist-residencies/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 21:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[minor narrative]]></category>
		<category><![CDATA[narratives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Ten links for artist residential programs in 2011. Check out people! http://www.civitella.org/applicantapp/Application_4.aspx http://arts.endow.gov/pub/pubAbout.php http://www.stpeteclay.com/ http://www.cmu.edu/studio/ http://www.lef-foundation.org/ http://www.transartists.nl/ http://www.residencyunlimited.org/category/opportunites/ http://re-title.typepad.com/opportunities/residency/ http://gottliebfoundation.org/grants/emergency-grant/ http://www.pkf.org/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=63&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ten links for artist residential programs in 2011. Check out people!</p>
<p>http://www.civitella.org/applicantapp/Application_4.aspx</p>
<p>http://arts.endow.gov/pub/pubAbout.php</p>
<p>http://www.stpeteclay.com/</p>
<p>http://www.cmu.edu/studio/</p>
<p>http://www.lef-foundation.org/</p>
<p>http://www.transartists.nl/</p>
<p>http://www.residencyunlimited.org/category/opportunites/</p>
<p>http://re-title.typepad.com/opportunities/residency/</p>
<p>http://gottliebfoundation.org/grants/emergency-grant/</p>
<p>http://www.pkf.org/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=63&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/10/22/links-for-artist-residencies/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ernő</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/04/18/erno-2/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/04/18/erno-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 14:59:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[script]]></category>
		<category><![CDATA[works]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Naskah film 15 menit Logline: Seorang perempuan tertarik pada lelaki pemain rubik. Ia mengikuti lelaki itu sampai keluar busway dan berpisah di saat yang tidak tepat Storyline: Suasana cukup ramai di bus Transjakarta pada sore itu. Seorang perempuan sedang asyik seorang diri dengan pemutar musiknya. Ia terus berlaku seperti itu sampai ia melihat seorang lelaki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=58&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Naskah film 15 menit</strong></p>
<p><em>Logline:</em></p>
<p>Seorang perempuan tertarik pada lelaki pemain rubik. Ia mengikuti lelaki itu sampai keluar busway dan berpisah di saat yang tidak tepat</p>
<p><em>Storyline:</em></p>
<p>Suasana cukup ramai di bus Transjakarta pada sore itu. Seorang perempuan sedang asyik seorang diri dengan pemutar musiknya. Ia terus berlaku seperti itu sampai ia melihat seorang lelaki yang menarik perhatiannya. Lelaki itu sedang bermain rubik, sebuah permainan kubus warna yang sangat rumit, namun dapat diselesaikannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hanya sekitar setengah lagu yang sedang didengarkan perempuan itu. Maka perempuan itu pun terus memperhatikan si lelaki. Ketika lelaki itu turun dari busway, perempuan itu mengikutinya. Ia tidak lagi pergi ke arah tujuannya semula. Mereka berdua mengantri dan akhirnya terpisah karena si perempuan sempat tertinggal satu langkah di belakang.</p>
<p><em>Sinopsis:</em></p>
<p>Pertemuan selalu menghadirkan misteri. Sama halnya ketertarikan seseorang pada sesuatu, misteri yang meliputinya. Erno merupakan sebuah film tentang misteri ketertarikan satu manusia atas manusia lainnya. Ketertarikan yang tidak perlu diperdebatkan, namun memiliki makna mendalam akan misteri yang melingkupi manusia.</p>
<p><em>Karakter:</em></p>
<p>Perempuan: cuek, dengan dandanan kasual. Tidak banyak omong dan bertingkah. Namun suka memperhatikan sekeliling.</p>
<p>Pemain rubik: cuek. Dandanan kasual. Tidak memperhatikan sekeliling.</p>
<p>Lelaki gemuk: tampak seperti pekerja keras. Kerjanya hanya tidur dengan mata terbuka di sepanjang adegan.</p>
<p>Lelaki genit: dandanannya norak dan terkesan urakan. Selalu menggoda perempuan di sampingnya.</p>
<p><span id="more-58"></span> Adegan 1:</p>
<p>Suasana di dalam busway jurusan Ragunan-Lattuharhari. Kamera mengarah pada setiap sudut di busway itu dan mendekat pada seorang perempuan yang duduk diapit dua orang lelaki</p>
<p>Adegan 2:</p>
<p>Perempuan sedang memainkan pemutar musiknya. Matanya menatap sesekali menatap pada lelaki gemuk di samping kanannya.</p>
<p>Adegan 3:</p>
<p>Perempuan melirik ke arah kiri dan melihat seorang lelaki genit yang tersenyum kepadanya.</p>
<p>Adegan 4:</p>
<p>Perempuan itu berpaling dan kembali sibuk dengan pemutar musiknya.</p>
<p>Adegan 5:</p>
<p>Lelaki pemain rubik memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan rubiknya. Ia menimang-nimang rubik itu.</p>
<p>Adegan 6:</p>
<p>Lelaki itu mulai memainkan rubik. Close shot or medium shot.</p>
<p>Adegan 7:</p>
<p>Kamera mengarah kepada wajah si perempuan. Sebuah lagu baru terdengar dari alat pemutar musiknya.</p>
<p>Adegan 8:</p>
<p>Lelaki pemain rubik itu sibuk dengan kubus warna yang tidak tersusun rapi. Dengan cepat jari-jarinya bergerak.</p>
<p>Adegan 9:</p>
<p>Perempuan itu mulai memperhatikan lelaki pemain rubik.</p>
<p>Adegan 10:</p>
<p>Lelaki pemain rubik menyelesaikan satu rangkaian kubus warna. Kemudian berhenti sebentar. Lalu bermain lagi. Satu warna lagi terselesaikan.</p>
<p>Adegan 11:</p>
<p>Perempuan itu semakin lurus menatap wajah dan tangan lelaki pemain rubik.</p>
<p>Adegan 12:</p>
<p>Kamera mengarah ke wajah lelaki gemuk yang sedang tidur dengan mata terbuka. Detail wajahnya tertangkap kamera.</p>
<p>Adegan 13:</p>
<p>Lelaki pemain rubik sudah menyelesaikan permainannya. Suara dari kondektur busway terdengar mengabarkan tentang halte transit yang sudah mendekat.</p>
<p>Adegan 14:</p>
<p>Lelaki pemain rubik mulai berdiri dan mengantri untuk turun.</p>
<p>Adegan 15:</p>
<p>Perempuan ikut berdiri dengan tergesa. Tangan berusaha memegang gantungan pada bus tapi tak berhasil</p>
<p>Adegan 16:</p>
<p>Perempuan itu terjatuh.</p>
<p>Adegan 17:</p>
<p>Lelaki genit yang duduk di samping kirinya menahan pantat perempuan itu dengan tangan.</p>
<p>Adegan 18:</p>
<p>Perempuan itu mendelik ke arah lelaki yang memegang pantatnya. Mukanya tampak marah.</p>
<p>Adegan 19:</p>
<p>Perempuan itu berusaha mengejar lelaki pemain rubik yang sudah terlebih dulu keluar.</p>
<p>Adegan 20:</p>
<p>Kamera mengarah pada kaki si perempuan yang setengah berlari mengejar lelaki pemain rubik.</p>
<p>Adegan 21:</p>
<p>Perempuan itu menabrak seorang lelaki setengah baya yang berjalan ke arah jembatan dukuh atas, tempat transit busway ke arah yang berbeda.</p>
<p>Adegan 22:</p>
<p>Perempuan mengantri di halte busway jurusan blok m di samping lelaki pemain rubik.</p>
<p>Adegan 23:</p>
<p>Perempuan melirik ke arah lelaki itu, tapi lelaki itu tetap menatap lurus ke depan.</p>
<p>Adegan 24:</p>
<p>Mulut perempuan bergerak-gerak seperti ingin menyapa lelaki itu. Tapi tak ada suara terucap.</p>
<p>Adegan 25:</p>
<p>Bus jurusan blok m tiba. Antrian satu per satu memasuki bis.</p>
<p>Adegan 26:</p>
<p>Perempuan itu tersandung kakinya dan hampir jatuh. Ia tertinggal dua atau tiga langkah dari lelaki itu.</p>
<p>Adegan 27:</p>
<p>Lelaki pemain rubik memasuki bus.</p>
<p>Adegan 28:</p>
<p>Perempuan berusaha buru-buru menaiki bus, tapi sebuah tangan menghalangi. Tangan itu adalah kondektur busway. Perempuan itu tidak diizinkan masuk karena bus sudah penuh.</p>
<p>Adegan 29:</p>
<p>Antrean berikutnya mulai tersusun kembali.</p>
<p>Adegan 30:</p>
<p>Kamera mendekat ke wajah perempuan yang seperti linglung.</p>
<p>Adegan 31:</p>
<p>Perempuan itu keluar dari antrean.</p>
<p>Adegan 32:</p>
<p>Perempuan termenung seorang diri di sudut halte.</p>
<p>Adegan 33:</p>
<p><em>Fade out to black</em>.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Sepanjang adegan tidak dialog antar pemain. Yang ada hanya suara latar suasana.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=58&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/04/18/erno-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ernő</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/04/18/erno/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/04/18/erno/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 14:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[short story]]></category>
		<category><![CDATA[works]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Suasana cukup ramai di bus Transjakarta yang kutumpangi sore ini. Manusia laki dan perempuan berdesakan. Laju bus sedikit tersendat. Macet. Dipenuhi beragam kendaraan selepas kerja. Bus Transjakarta merayap menuju jalan Lattuharhari. Dua perhentian lagi ke Dukuh Atas. Aku hendak pulang. Biasanya, dari perhentian ini aku harus berpindah melanjutkan perjalanan. Manusia laki dan perempuan terlibat dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=52&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suasana cukup ramai di bus Transjakarta yang kutumpangi sore ini. Manusia laki dan perempuan berdesakan. Laju bus sedikit tersendat. Macet. Dipenuhi beragam kendaraan selepas kerja. Bus Transjakarta merayap menuju jalan Lattuharhari. Dua perhentian lagi ke Dukuh Atas. Aku hendak pulang. Biasanya, dari perhentian ini aku harus berpindah melanjutkan perjalanan. Manusia laki dan perempuan terlibat dalam emosi. Bosan. Gerah. Sempit. Macet ini tak tertahankan. Laju sepeda motor tak berakal. Seenaknya saja memasuki jalur khusus, yang diperuntukkan hanya untuk kami, penumpang busway ini. Para petugas pengatur lalu lintas tidak dapat berbuat banyak. Sedikit saja, bus yang kutumpangi merangkak.</p>
<p>Biasanya, dalam keadaan ini aku tidur. Aku beruntung, karena selalu mendapatkan tempat duduk ketika aku menumpangi bus Transjakarta di jam-jam seperti ini. Tapi memang arah Ragunan menuju Dukuh Atas tidaklah sepadat di pagi hari. Apalagi, aku menumpang dari Halte Departemen Pertanian. Lelah, selalu tanggap mengikutiku ketika menyaksikan begitu banyak orang dalam satu ruangan. Aku mengidap klaustrofobia. Ruang sempit bukanlah teman bagiku. Aku selalu diliputi kegundahan setiap kali masuk elevator. Dadaku berdegup keras, ketika naik dan turun menggunakan benda pengangkat itu. Jika aku seorang diri, tidak pernah mau aku menumpangi elevator. Aku takut suatu ketika listrik padam dan aku tidak mampu keluar sampai akhirnya dadaku sesak dan tak mampu bernapas lagi. Sama seperti di bus ini. Orang-orang, laki dan perempuan saling berdesakan, meski sedikit ruang tersisa bagi mereka. Tampaknya mereka sudah terbiasa kacau. Sedikit ruang sama saja dengan tiada bagi mereka. Biasanya pula, aku mendengarkan musik, untuk menenangkan jiwa. Orang-orang di sebelahku, kanan dan kiri, juga di depanku sering melakukan hal yang sama. Ada juga yang bahkan mendengkur dalam tidur. Kadang aku terganggu. Kadang pula tidak. Sebab di banyak kejadian aku tidak sempat memperhatikan orang. Aku selalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku selalu sibuk dengan kesibukanku sendiri. Aku selalu sibuk dengan emosiku sendiri.</p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p>Tapi sore ini, tidak seperti biasa. Aku begitu memperhatikan orang-orang di kanan, kiri dan depanku. Seorang perempuan muda tampak rusuh dengan telepon genggamnya. Berkali-kali telepon itu berdering. Berkali-kali pula, perempuan itu menjelaskan posisinya. Dua orang remaja, gadis dan jejaka, saling pegang pundak. Wajah-wajah mereka berdekatan. Ramai orang yang bisa saja memperhatikan tidak dipedulikan. Mereka sibuk bermesraan. Di sebelah kanan tempat dudukku, seorang bapak setengah baya tidur dengan mata terbuka. Seperti mendapat mimpi di siang bolong, bapak itu bergumam, menghitung-hitung laba penghasilannya hari ini. Entah sadar atau tidak, tapi matanya yang terbuka begitu menyeramkan bagiku. Ditambah lagi gumamamnya soal untung kerja. Bapak itu tampak lelah. Dan aku merasa enggan berlama untuk memperhatikan tingkahnya. Di kiri tempat dudukku ada seorang pria. Tidak muda, juga tidak tua. Janggut menebali dagunya. Matanya tajam. Sesekali dia menengok ke arahku, sambil sedikit mengerlingkan alis. Menggodaku. Aku tak berhasrat. Memang sore ini aku merasa sial, diapit dua orang lelaki yang sama sekali tidak menarik. Biasanya, bus Transjakarta tidaklah terlalu penuh ketika sore-sore dari arah Ragunan. Aku sering menumpangi bus ini untuk sekadar melepas penat, saat beban kuliah begitu padat. Tempat tinggalku di kawasan Rawamangun. Kampung Ambon. Sebenarnya, dari kampusku, aku bisa langsung menumpang bus jurusan Pulo Gadung. Kampusku ada di Lenteng Agung. Tapi kadang aku ingin berlama-lama di jalanan. Sekadar melepas gerah, sekaligus cuci mata. Siapa tahu, aku menemukan hal menarik untuk kubawa pulang. Sebuah cerita, atau mungkin cinderamata.</p>
<p>Di bus Transjakarta sore hari ini, mataku menelusur. Tak bisa tidur. Pemutar musik mp3 aku nyalakan. Lagu kesayanganku langsung bergema. Mataku masih nyalang. Sampai kutemukan di balik tubuh seorang perempuan yang tenang dengan telepon genggamnya, sepasang tangan merogoh-rogoh tas selempang coklat tua. Aku perhatikan gerak gerik tangannya. Lembut. Tanpa otot yang terlalu. Tampak seperti milik lelaki rumahan. Tas selempang coklat tuanya memang tidak istimewa. Selayaknya tas yang sering digunakan oleh mahasiswa. Lelaki itu duduk di pojok depan tempat dudukku. Dia mengeluarkan sebuah benda kubus dari tas selempang coklat tua miliknya. Sebentuk permainan. Rubik. Aku selalu suka permainan mekanis tiga dimensi itu. Berkali-kali aku gagal menyusun warna-warna yang terpampang dari kubus kecilnya. Berkali-kali aku coba sampai akhirnya hilang semangat. Kubus rubik yang dikeluarkan lelaki itu tidak bersusunan. Aku rasa, hampir tidak mungkin kalau dia dapat menyusun warna-warnanya dengan sempurna. Kalau pun bisa, pasti dibutuhkan waktu yang lama. Lagu di pemutar mp3-ku berganti baru, saat dia memulai permainannya. Wajahnya tidak benar kulihat. Tertutupi badan perempuan yang ada di depannya. Jadi kuperhatikan saja gerak tangannya. Tidak berapa lama, susunan warna oranye mampu diselesaikannya. Kini dia sedang menyusun warna hijau pada kubus. Sembulan warna putih mengganggu konsentrasinya. Tapi tak lama. Warna hijau itu sudah tersusun sempurna. Lagu dari mp3 masih tetap sama. Kini tugasnya menyusun empat warna lagi. Kuning, biru, putih dan merah. Aku tak bergeming. Mataku terus mengarah pada tangan lelaki pemain rubik ini. Halte Guntur sudah terlewat. Halimun hampir terlihat. Satu halte lagi sebelum transit. Tangannya bergerak begitu cepat. Aku hampir-hampir tidak percaya, kalau ternyata kubus rubiknya selesai dia pecahkan. Sempurna. Suara penyanyi kesayanganku masih mengudara. Dan aku tercengang. Lagu di pemutar mp3-ku belum pula selesai, tapi lelaki itu sudah mampu memecahkan teka-teki tak masuk akal kubus rubik. Perempuan di depannya bergeser. Kini kulihat jelas wajahnya. Celingukan. Tampak puas. Dia pun memasukkan kembali kubus rubiknya ke dalam tas. Mataku tak bergerak. Mengikuti setiap polahnya. Wajahnya. Tangannya. Kakinya. Lelaki itu begitu dingin. Aku tidak ingat kapan dia masuk ke dalam bus yang aku tumpangi ini. Tapi yang pasti, dia sudah memikatku. Dukuh Atas sudah tampak. Rasa kagumku pada lelaki muda itu sungguh tak tertahankan. Kulihat dia bersiap turun. Aku gelagapan. Berdiri terburu sampai hampir jatuh. Untunglah masih sempat berpegangan. Lelaki sebelah kiri tempat dudukku sempat memegang bokong bermaksud menahan tubuh jatuhku. Aku sama sekali tidak ingin berterimakasih padanya. Alih-alih, aku merasakan penghinaan dari pegangannya. Aku pun mendelikkan mata. Dalam keadaan normal, pasti sudah kuhajar orang itu. Tapi aku lalu sadar, pemuda hebat pemain rubik itu akan segera turun. Kualihkan lagi pandang pada pemuda itu. Ernő. Begitulah aku menyebutnya. Kupanggil dia Ernő sebab kehebatannya bermain rubik. Nama depan pencipta permainan kubus ini. Pengumuman dari pengeras suara bus menggema, “Pemberhentian berikutnya: Halte Dukuh Atas. Perhatikan barang bawaan Anda dan hati-hati melangkah. Terima kasih.” Kondektur bus berteriak-teriak, “Yang transit Kalideres, Pulo Gadung, Blok M, Kota. Yang transit…”</p>
<p>Bus pun berhenti.</p>
<p>Aku berada sekitar lima kepala di belakang Ernő. Kulihat dia tidak memperhatikan kanan kiri. Kepalanya tegak. Pintu otomatis bus terbuka. Puluhan orang yang hendak transit menyeruak. Keluar. Bagai semut. Ernő melangkah perlahan. Dan aku terburu. Mencoba mendekatinya. Tanganku sedikit menyikut seorang perempuan berbaju kerja. Tak kurisaukan marahnya. Aku terus mendesak. Ernő berjalan santai. Lurus dan mantap. Tas selempangku mendupak pinggang lelaki setengah baya yang hanya bisa tersenyum melihat ketergesaanku. Earset masih terpasang di kupingku. Lagu dari pemutar mp3 sudah tidak lagi kunikmati. Ernő berjalan menatahi jembatan penghubung ke arah transit busway jurusan Blok M dan Kota. Sebagai gila, langkahku semakin cepat. Satu dua orang kulewati. Tubuh-tubuh mereka tertubruk olehku. Menggerutu. Kubiarkan saja. Ernő semakin dekat. Dua tubuh lagi menghalangi. Dadaku berdegup kencang. Payudaraku naik turun. Terbanting-banting oleh langkah kakiku yang bagai kilat. Ratusan orang memadati jembatan. Lampu-lampu jalan berkilauan. Bunyi klakson memekik. Pekak. Aku terus mengikuti langkah Ernő. Tiba di antrean.</p>
<p>Ernő berada di baris antrean menuju Blok M. Aku menghampirinya. Tepat di sampingnya. Ada kata hendak terucap. Tapi mataku yang bergerak. Tatapan Ernő tetap lurus. Dingin. Ingin kusampaikan kekagumanku padanya. Kekagumanku atas permainan rubiknya yang luar biasa. Tapi mataku hanya bergerak dan bibirku tak mampu membuka. Kami begitu dekat sekarang. Berdampingan. Tapi tak sekalipun Ernő menengok ke arahku. Seandainya saja, aku berdoa, seandainya saja ada satu masa di mana Ernő melirik ke arahku, pastilah aku langsung berucap, “Kau hebat.” Tapi tidak. Doa itu tak terkabul. Bibirku tetap kelu. Satu bus berhenti. Puluhan orang merangsek ke depan. Memasuki bus. Aku agak tertinggal satu kaki di samping Ernő. Di depan kami, puluhan orang lagi mengantre. Bus pertama sudah tidak menerima penumpang. Mataku tetap melurusi wajah Ernő. Kini dia tampak bersiul sambil menggoyangkan kaki. Perasaanku semakin membuncah. Ingin sekali aku berkata dan bertanya padanya. “Kau hebat. Bolehkah aku tahu darimana kehebatan itu berasal?”</p>
<p>Satu bus lagi merapat. Aku mencoba memastikan diri. Di dalam bus itu akan kukatakan semuanya. Akan kukatakan segala kekagumanku. Gerak gerik Ernő yang begitu memikatku. Akan kukatakan tanpa tabir lagi. Pintu otomatis bus mulai terbuka. Dan seketika puluhan orang berdesakan masuk. Kakiku terlibat. Hampir oleng. Sementara puluhan orang lainnya sudah masuk ke dalam bus. Termasuk Ernő. Aku buru-buru membetulkan posisi berdiriku dan melangkah cepat. Tepat. Di depan pintu bus yang masih terbuka. Aku bersiap melangkahkan kaki ke dalam ketika kulihat sebuah tangan menahanku. Bus sudah terlalu penuh. Dan aku harus mengantre lagi bus selanjutnya. Aku terkesiap. Diliputi tidak percaya. Kucoba lagi memaksa masuk tapi tangan itu mendorongku. Jauh. Lalu pintu bus tertutup. Dan laju. Bus itu bergerak bersama Ernő di dalamnya. Mataku tak habis-habis memandangi bus yang kini menjauh. Menghilang. Bersama harapanku untuk bisa menjabat tangan Ernő. Aku kecewa. Kesempatan itu tak pernah ada. Seandainya saja tadi aku bisa berbicara, pastilah tidak begini akhirnya. Ernő pergi bersama kenangan membekas di hatiku. Selangkah demi selangkah aku mulai meninggalkan antrean. Sambil meradang, aku mencoba mengingat-ingat arah rumah yang kutahu pasti, tidak berada di jalur ini.</p>
<p><em>11 November 2009</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=52&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2010/04/18/erno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komuni</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/komuni/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/komuni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 18:17:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Segelas darah sepotong tubuh Melancarkan perjalanan langit Sang Messiah Ke pangkuan Bapa Secangkir anggur sekerat roti Diasup ke mulut anak-anak polos Pada sebuah komuni : Roti ini tubuh anggur ini darah dari Tuhan kita Yesus Kristus Bungkus-bungkus plastik kosong Dikorek-korek Para pemulung Kelaparan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=47&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segelas darah sepotong tubuh<br />
Melancarkan perjalanan langit<br />
Sang Messiah<br />
Ke pangkuan Bapa</p>
<p>Secangkir anggur sekerat roti<br />
Diasup ke mulut anak-anak polos<br />
Pada sebuah komuni<br />
: Roti ini tubuh anggur ini darah dari Tuhan kita Yesus Kristus</p>
<p>Bungkus-bungkus plastik kosong<br />
Dikorek-korek<br />
Para pemulung<br />
Kelaparan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=47&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/komuni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/bilal-dilema-kebebasan-dan-fasisme-ideologi-punk/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/bilal-dilema-kebebasan-dan-fasisme-ideologi-punk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 18:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X (2008) masih memainkan bentuk-bentuk eksterior dari sebuah identitas. Meski demikian,Bilal dapat dijadikan acuan untuk menganalisa kondisi dunia kekinian. Melihat Bilal mengumandangkan azan dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=45&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.jurnalfootage.net/web/in/artikel/69-bilaldilemakebebasandanfasismeideologipunk.html"><img class="aligncenter size-full wp-image-44" title="bilal" src="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/bilal.png?w=500&#038;h=375" alt="bilal" width="500" height="375" /></a></p>
<p><em>Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X (2008) masih memainkan bentuk-bentuk eksterior dari sebuah identitas. Meski demikian,Bilal dapat dijadikan acuan untuk menganalisa kondisi dunia kekinian.</em></p>
<p>Melihat <em>Bilal </em>mengumandangkan azan dalam balutan pakaian dan gaya rambut punk bagi saya merujuk ke arah-arah yang saling bertentangan. Arah pertama dari karya video ini adalah kesengajaan untuk membalikkan pemahaman tradisional muslim tentang cara berpakaian seorang muazin. Sutradaranya seakan ingin menegaskan bahwa ciri-ciri berpakaian seseorang tidak lantas melekatkannya dengan ideologi atau kelompok tertentu. Anak punk yang menjadi muazin bisa jadi merupakan suatu kontradiksi, sebab dalam keyakinan Islam tradisional, Bilal adalah seorang yang berpakaian baik, dalam arti tidak serampangan, apalagi dengan rambut bergaya jengger ayam.</p>
<p><span id="more-45"></span></p>
<p>Dalam sejarah Islam, Bilal merupakan muazin pertama yang menciptakan lirik panggilan bagi kaum muslim untuk sembahyang. Bilal hadir menawarkan suara manusia sebagai panggilan sembahyang kaum muslim untuk membedakan panggilan-panggilan beribadah yang sudah dilakukan oleh pengikut agama lain seperti dengan lonceng untuk gereja kaum Kristen. Pada saat berdebat mengenai panggilan sembahyang, salah seorang pengikut mengusulkan suara tambur, namun usulan itu langsung ditentang oleh Hamzah, pengikut setia dan juga salah satu paman nabi Islam, karena suara tersebut begitu identik dengan darah dan perang. Suara manusia sebagai bentuk panggilan sembahyang kaum muslim, dalam konteks itu, menjadi sebuah panggilan bagi perdamaian. Sejak Bilal mengumandangkan azan, sejak itu pula azan ditetapkan sebagai panggilan khas bagi kaum muslim untuk melakukan ibadahnya. Lirik-lirik azan sendiri tidaklah sesuatu yang sudah dipersiapkan sebelumnya, melainkan hadir saat itu dan digunakan sampai sekarang. Jika Bilal diidentikkan dengan anak lelaki berpeci yang santun dan memiliki suara indah dalam pemahaman Islam tradisional, maka dalam karya video ini, Bilal menjadi seorang anak muda bergaya pakaian bebas dan cenderung menentang pemahaman-pemahaman konvensional.</p>
<p>Arah kedua adalah keselarasan kontekstual antara identitas punk dan identitas keagamaan kontemporer. Bilal versi punk Bagasworo bisa dikatakan sangat selaras dengan kondisi pemahaman keislaman di dunia sekarang ini. Di masa kelahirannya, ideologi punk merupakan sistem pemikiran distingtif yang berhubungan dengan subkultur punk di akhir 1970an. Awalnya punk merupakan sebuah gerakan kekecewaan, pemberontakan dan ketidakpuasan, kemudian berkembang menjadi gerakan sosial-politik. Kelompok musik seperti <em>Black Flag, Dead Kennedys, Bad Religion, Anti-Flag, Conflict, The Blood</em> dan <em>Subhumans</em> cukup banyak memberi kontribusi pada iklim ideologis ini. Ketidakpuasan terhadap sistem dan tawaran solusi pada masalah-masalah dunia sering disuarakan mereka melalui musik. Semangat ini masih aktif dan berkembang sampai sekarang.</p>
<p>Lewat kelompok-kelompok musik tadi, ideologi politik punk sering diasosiasikan dengan anarkisme. Seiring perkembangan, ideologi-ideologi lainnya seperti pembebasan, kiri-liberal, sosialis, komunis-anarkis dan bahkan neo-Nazi, begitu lekat dengan punk. Dan, di antara sekian banyak ideologi punk, yang paling berbeda adalah ideologi neo-Nazi, karena sangat identik dengan kekerasan dan fasisme. Ideologi neo-Nazi ini dipopulerkan oleh kelompok musik seperti <em>Skrewdriver, Ad Hominem, Aryan Terrorism, Bound for Glory, Brigada NS, Jew Slaughter, Final Solution, White Law</em> dan <em>Infernum</em>. Mereka menjadi bagian dari kelompok anti komunis, yang dikenal sebagai kelompok <em>Nazi Punks</em> dan <em>Rock Against Communism</em>, kelompok-kelompok punk yang sangat nasionalistik dan anti komunis. Mereka punya slogan “Punk’s Not Red”, sebuah permainan dari slogan “Punk’s Not Dead”, yang memiliki hubungan kuat dengan Nazi Skinheads, kelompok fasis dan rasis yang merupakan simbol kebangkitan kembali Nazisme anti-semit. Pada 1980an, kelompok-kelompok punk nasionalistik ini sering kali menyuarakan protes atas otoritas Soviet yang anti-nasionalisme, patriotisme dan jingoisme.</p>
<p>Jika ideologi punk dalam karya video Bilal harus dikaitkan dengan kekerasan agama, maka kita bisa merujuknya ke situasi politik dunia kontemporer. Pasca peristiwa 11 September 2001, hampir seluruh dunia mengalami demam kekerasan berlabelkan agama. Fasisme keagamaan dianggap oleh sebagian orang sebagai konsekuensi dari perlakuan tidak adil dunia barat terhadap dunia ketiga, khususnya dunia Islam. Bagaimanapun, aksi ini jelas menjadi tonggak baru peningkatan kekerasan dalam agama. Meski demikian, radikalisme dan fundamentalisme keagamaan menjadi fenomena umum di seluruh dunia dan tidak hanya terjadi di dunia Timur, terutama Islam, melainkan juga terjadi di dunia Barat-Kristen.</p>
<p>Merujuk Karen Armstrong, banyak masyarakat barat yang dididik secara rasional, yang tidak dipersiapkan bagi ritual mistis dan mitis, ternyata ingin kembali kepada nilai-nilai transenden di masa lampau. Untuk kembali ke masa lampau adalah tidak mungkin, maka satu-satunya cara adalah menghidupkan nilai-nilai lama ke masa sekarang, yaitu dengan melakukan ritual dan tindakan-tindakan menolak berbagai hal yang bertentangan dengan keyakinan. Kekerasan menjadi pilihan utamanya. Armstrong lalu menunjukkan perkembangan gerakan radikalisme dan fundamentalisme di dunia Kristen-Barat. Setelah itu, ia kemudian memusatkan perhatian ke dunia agama-agama Timur seperti Islam dan Yahudi. Menurutnya, peningkatan radikalisasi dan bahkan fundamentalisasi tidak hanya terjadi di dunia Islam dengan ideologi jihad yang dimilikinya, melainkan juga di kalangan Yahudi. Dengan basis ideologi yang sama-sama mengusung kekerasan itu, Islam dan Yahudi selalu terlibat pertikaian sampai sekarang.</p>
<p>Kecenderungan kekerasan ini pada gilirannya juga tidak bisa dilepaskan dengan meningkatnya gejala kebangkitan agama mulai dari Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, Shintoisme dan lain-lain. Peningkatan fundamentalisme, menurut Armstrong, merupakan konsekuensi dari sebuah keyakinan penuh gejolak untuk berjuang demi kelangsungan hidup di dunia yang tidak ramah. Dan wajar saja, jika peningkatan fundamentalisme dalam agama-agama dunia ini meningkatkan juga skala kekerasan. Aksi kekerasan meningkat disebabkan semakin banyaknya orang yang berniat terlalu keras untuk memahami agamanya, kata Mark Juergensmeyer. Ia bahkan menegaskan, semakin orang berniat keras untuk memahami agamanya maka semakin radikal pula tindakannya.</p>
<p><strong>Bilal dan Kritik Atas Fasisme Agama</strong></p>
<p>Lalu, bagaimana membayangkan <em>Bilal </em>dengan citraan kekerasan dari suatu agama tertentu? Bagi saya, <em>Bilal </em>menjadi tanggapan unik atas peningkatan kekerasan yang dilakukan oleh pengikut agama Islam. Bila anak punk dalam karya video <em>Bilal</em> dikaitkan dengan ideologi neo-Nazi, kita akan menemukan bahwa karya ini merupakan kritik terhadap fasisme dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Karena yang disuarakannya azan, maka karya video ini mengusung label khas dari agama Islam, yang sejak peristiwa terorisme 11 September 2001 menjadi sorotan untuk berbagai tindak kekerasan mengatasnamakan agama di seluruh dunia.</p>
<p>Pada awalnya, punk merupakan gerakan pemberontakan terhadap sistem. Sebuah ideologi yang mengusung tema kebebasan di dalamnya. Namun, ketika punk dimasuki oleh kelompok-kelompok fasis, aura kebebasan yang diusungnya pun serta merta melesat ke udara. Bilal dalam citraan punk menjadi sebuah dilema antara ideologi kebebasan dan fasisme yang melekat pada gerakan-gerakannya. Punk dalam karya video <em>Bilal </em>menjadi sebuah kritik atas bentuk-bentuk kekerasan berlandaskan agama. Label-label kekerasan itu dikonstruksi sedemikian rupa dalam karya video ini, sehingga menghasilkan suatu kondensasi realitas dalam bentuk yang paling halus. Untuk menemukan citraan implisit yang dikandung karya video ini, kita tidak bisa melihat dengan sekilas pandang saja. Saat pertama menonton karya ini, kesan pertama adalah kesegaran dan gelak tawa karena kita berpikir bahwa hal seperti yang dilakukan dalam karya video Bilal merupakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Ketika memperhatikan lebih lanjut, saya berpikir bahwa sang sutradara cukup cermat dalam mengamati situasi dan kondisi politik dunia kontemporer. Ya, fakta memang tidak harus diungkapkan dalam bahasa verbal, sehingga kita tidak terjebak pada sebuah ‘kebenaran telanjang’ (<em>bare truth</em>). Untuk hal ini, saya pikir Bagasworo, sadar atau tidak, berhasil melakukannya. Melalui <em>Bilal</em>, Bagasworo berhasil menerapkan kritik jenius terhadap situasi politik dunia kontemporer yang dipenuhi oleh berbagai aksi kekerasan mengatasnamakan agama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=45&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/bilal-dilema-kebebasan-dan-fasisme-ideologi-punk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/bilal.png" medium="image">
			<media:title type="html">bilal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/membaca-isyarat-tak-terpahami-michael-haneke/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/membaca-isyarat-tak-terpahami-michael-haneke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 18:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas Wina dan bekerja sampingan sebagai penulis filem dan kritik sastra. Sebagai sutradara, karyanya mulai dikenal melalui filem The Seventh Continent (1989). Filem [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=39&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_40" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-40" title="00786332-photo-affiche-code-inconnu" src="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/00786332-photo-affiche-code-inconnu.jpg?w=500&#038;h=673" alt="www.kaganof.com" width="500" height="673" /><p class="wp-caption-text">www.kaganof.com</p></div>
<p><em>Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas Wina dan bekerja sampingan sebagai penulis filem dan kritik sastra. Sebagai sutradara, karyanya mulai dikenal melalui filem </em>The Seventh Continent <em>(1989). Filem </em>Code Unknown<em>, yang dibintangi Julliette Binoche, Alexandre Hamidi, Josef Bierbichler, Thierry Neuvic, Luminita Gheorghiu, dan Ona Lu Yenke, menegaskan posisi Haneke sebagai sutradara penting dunia.</em></p>
<p>Filem <em>Code Unknown</em> dimulai dengan adegan seorang gadis tunarungu memberikan isyarat tak terpahami kepada teman-temannya. Tak satupun jawaban teman-temannya yang bisa diterima sebagai kebenaran. Adegan kemudian dilanjutkan perjumpaan Jean (Alexandre Hamidi) dengan Anne (Juliette Binoche) di jalanan kota Paris. Jean digambarkan sebagai pemuda serampangan yang kabur dari rumah, dan mencari perlindungan abangnya (Theirry Neuvic), seorang wartawan foto yang sedang bertugas di wilayah Balkan. Anne, yang merupakan pacar abangnya itu, sedang tergesa sehingga tidak mampu menanggapi persoalan Jean dengan baik. Dia mencoba membayarnya dengan makanan dan kunci apartemen, dengan syarat Jean tidak boleh tinggal di sana selamanya. Masalah baru dimulai ketika Jean melemparkan sampah bekas makannya kepada Maria (Luminita Gheorghiu), seorang yang akhirnya teridentifikasi sebagai imigran Rumania di kota Paris. Adegan ini seakan menunjukkan rasa frustrasi Jean karena permasalahannya tidak mendapat tanggapan baik. Seorang guru musik keturunan Afrika, Amadou (Ona La Yenke), melihat peristiwa penghinaan itu dan meminta Jean meminta maaf pada Maria. Jean menolak, Amadou memaksa sedang Maria mencoba kabur dari kericuhan.</p>
<p><span id="more-39"></span></p>
<p>Kericuhan Amadou dan Jean menarik perhatian pemilik toko yang merasa terganggu tingkah mereka. Tidak lama kemudian Anne datang, tapi kericuhan masih berlanjut. Akhirnya polisi pun sambang. Ketika meminta tanda pengenal pelaku kericuhan, polisi melepaskan Jean, namun menahan Amadou dan Maria. Peristiwa-peristiwa yang berlalu cepat ini membuka permasalahan filem. Permasalahan yang akan mengungkap persoalan sosial kontemporer Prancis, lebih khusus Paris, serta Eropa pada umumnya. Mendekati akhir kita bisa lebih memaknai persoalan yang dibuka pada awal filem.</p>
<p>Apakah permasalahan Prancis yang ingin ditunjukkan dalam filem ini? Hampir serupa dengan karya Haneke terdahulu, <em>71 Fragments of a Chronology of Chance</em>,<em> </em>filem <em>Code Unknown</em> juga menghadirkan adegan-adegan samar yang tercermin dalam ragam sudut pandang pelaku. Di filem ini, ruang-ruang persoalan dibuka melalui seorang aktris, imigran Afrika, berandalan Arab, imigran Rumania dan wartawan perang Bosnia. Meski ada perbedaan signifikan dengan karya-karya Haneke terdahulu, seperti pertunjukan kekerasan eksepsional, permasalahan yang diangkat dalam filem ini tidak kalah rumit. Saat filem ini dibuat, Eropa sedang mengalami gelombang migrasi baru, yang juga menyebabkan kesulitan komunikasi, baik antarpribadi maupun antarbudaya. Tidak hanya dari segi penggambaran realitas Eropa yang berubah, filem ini menarik untuk melihat penertawaan Haneke terhadap realitas. Adegan di mana Juliette Binoche histeris ketika melihat seorang anak hampir jatuh dari gedung apartemen menjulang terasa begitu nyata, sebelum akhirnya penonton dikejutkan oleh suara tawa di balik layar. Ternyata, adegan tersebut hanyalah sinkronisasi suara di sebuah studio. Kebenaran citraan dipertanyakan kembali oleh Haneke. Adegan ini mengingatkan penonton pada filem-filem Haneke sebelumnya (<em>Benny’s Video</em> dan <em>Funny Games</em>, yang kemudian dilanjutkan di filem <em>Caché</em>), di mana media, termasuk kelahiran video memberikan ruang-ruang untuk menciptakan kolase antara realitas dan fiksi.</p>
<div id="attachment_41" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-41" title="947_g" src="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/947_g.jpg?w=500&#038;h=333" alt="www.uk.rottentomatoes.com" width="500" height="333" /><p class="wp-caption-text">www.uk.rottentomatoes.com</p></div>
<p>Terlepas dari masalah citraan fiksi dan realitas tadi, setidaknya ada tiga masalah mendasar yang dihadapi Prancis ketika <em>Code Unknown</em> diproduksi. Pertama, permasalahan ekonomi. Prancis, seperti negara-negara Eropa lainnya sedang menyambut integrasi Eropa, yang ditandai dengan perjanjian Maastricht, Belanda, tahun 1992 dan menyongsong pemberlakuan mata uang tunggal Eropa tahun 2002. Filem ini merupakan tanggapan Haneke terhadap geliat integrasi Eropa yang tidak sepenuhnya dapat diterima masyarakat. Persoalannya, integrasi secara perlahan mengikis kemapanan warga Eropa yang kini harus menghadapi gelombang baru migrasi. Gelombang migrasi ini memang menjadi persoalan besar Eropa pascakolonialisme. Dengan hadirnya integrasi Eropa, gelombang migrasi itu menjadi lebih besar lagi. Bagi Prancis, Afrika menjadi masalah utama, sebab sebagian besar wilayah jajahannya adalah negara-negara di kawasan tersebut. Gelombang migrasi besar-besaran pasca integrasi Eropa tentu membawa permasalahan ekonomi mendasar. Masyarakat Prancis yang mapan ditantang oleh gelombang migrasi ekonomi ini. Posisi-posisi ekonomi mereka banyak digantikan oleh para imigran, menyebabkan munculnya kecemburuan.</p>
<p>Kedua, permasalahan politik. Pascakolonialisme telah membawa titik terang bagi bangsa-bangsa bekas jajahan untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka yang pernah tercerabut dulu. Semangat anti batas negara yang disuarakan oleh integrasi Eropa telah membuat pemerintah Prancis harus berpikir ulang akan posisi politik mereka di Eropa dan dunia. Gelombang migrasi besar-besaran membawa Prancis pada posisi antara melebur atau mempertahankan diri. Citra politik Prancis yang kosmopolit ternyata tidak mampu menahan aspirasi publik yang masih rasis. Kenyataan ini ada pada adegan awal pertikaian Jean dan Amadou, serta penolakan Anne kepada seorang pemuda Arab untuk berbicara dengannya di sebuah kereta dalam adegan menuju akhir filem. Dalam kondisi antara melebur atau mempertahankan identitas ini, tidak heran jika partai-partai konservatif tumbuh subur di Prancis. Sebagai negara yang sedang terjepit, Prancis ingin mempertahankan diri dari serbuan. Konservatisme, dengan demikian, menjadi sarana pertahanan diri. Orang-orang konservatif Prancis seperti Jean-Marie Le Pen begitu agresif melancarkan serangan berbau rasis kepada para imigran. Ketika polisi lebih memilih menahan Amadou ketimbang Jean, yang jelas-jelas melakukan kesalahan, kita dapat merasakan sengatnya aroma rasisme Eropa. Jean bersama Anne, merupakan representasi pribumi Prancis, sedangkan Amadou, yang berkulit hitam, merupakan representasi pendatang meski berbahasa Prancis.</p>
<p>Ketiga adalah permasalahan budaya. Dalam zaman terkikisnya batas-batas negara, kemunculan ekonomi Eropa baru, permasalahan migrasi dan kisruh posisi politik Prancis, telah membuat kesenjangan-kesenjangan sosial dan budaya. Pertemuan cair antara empat orang di jalanan kota Paris di filem ini memaknai sebuah keterpecahan sosial yang terjadi di masyarakat perkotaan kontemporer Prancis. Kegagalan komunikasi menjadi tema utama filem ini. Pada kasus Maria, yang juga pendatang, dia ditahan karena ketidakmampuannya berkomunikasi. Secara bernas, Haneke menghasilkan sebuah filem provokatif mengenai kesenjangan sosial, ketidaksempurnaan asimilasi kultural, dan kegagalan-kegagalan komunikasi. Segala bentuk komunikasi yang seharusnya mudah selalu diinterupsi dalam filem ini. Prasangka-prasangka rasial dihadirkan untuk membuka mata kita pada cara berpikir monoetnis Eropa, khususnya Prancis. Pada bagian akhir, filem ditutup dengan permainan musik ritmis Amadou dan murid-murid tunarungunya. Adegan ini seakan menggambarkan sifat manusia yang, secara inheren, memiliki bias komunikasi. Sebagai bahasa universal, musik menjadi penunjuk arah Eropa masa depan. Sebuah kritik terhadap penyakit klaustrofobia Eropa. Sebuah kritik terhadap masyarakat Eropa yang tidak bisa cepat melebur, selalu mempertahankan diri meski dunia sedang bergerak cepat melintasi batas-batas kewilayahan negara.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=39&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/membaca-isyarat-tak-terpahami-michael-haneke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/00786332-photo-affiche-code-inconnu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">00786332-photo-affiche-code-inconnu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/947_g.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">947_g</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menu Kita Hari Ini: Ideologi</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/menu-kita-hari-ini-ideologi/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/menu-kita-hari-ini-ideologi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 17:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[narratives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Adakah ideologi dalam urusan perut kita? Pertanyaan ini tampaknya penting diajukan sebab ternyata di balik asupan tubuh terdapat simbol-simbol yang mengiringi pola pemikiran kita. Makan menjadi keharusan untuk memastikan kelangsungan hidup. Jelas, dorongan rasa lapar berbeda dengan, katakanlah, dorongan seksual. Hasrat seksual hanya butuh dipuaskan setidaknya sekali seumur hidup. Sedangkan dorongan rasa lapar harus terus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=37&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adakah ideologi dalam urusan perut kita? Pertanyaan ini tampaknya penting diajukan sebab ternyata di balik asupan tubuh terdapat simbol-simbol yang mengiringi pola pemikiran kita.</p>
<p>Makan menjadi keharusan untuk memastikan kelangsungan hidup. Jelas, dorongan rasa lapar berbeda dengan, katakanlah, dorongan seksual. Hasrat seksual hanya butuh dipuaskan setidaknya sekali seumur hidup. Sedangkan dorongan rasa lapar harus terus terpuaskan setiap kali perut kita melilit menahan rasa sakit karena belum ada yang sempat mampir mengisi kekosongan usus kita.</p>
<p>Dalam makanan, kita temukan jati diri. Kebutuhan untuk makan tersebut sejatinya merupakan urgensi individual. Ada premis sangat sahih mengatakan, setiap mahluk bernyawa, tidak terkecuali manusia harus makan. Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah perilaku memakan sesuatu itu berada di wilayah privasi atau publik? Pada awalnya, makan adalah kebutuhan individual, namun dalam perjalanannya, makan menjadi proses sosial.</p>
<p><span id="more-37"></span></p>
<p>Karena perilaku makan merupakan proses sosial maka berbagai aturan pun ditetapkan. Oleh sebab itu, makanan menjadi lebih dari sekadar simbol kesejatian diri, melainkan juga sebagai simbol persatuan, perwujudan cinta dan keamanan dari mahluk bernama manusia.</p>
<p>Menarik memang ketika kita mencoba untuk membicarakan persoalan perut dengan pikiran. Ada pepatah bilang, tanpa perut pikiran selalu berada di atas awan, sedang tanpa pikiran, perut yang kosong mungkin akan terus selalu dalam keadaan kosong. Ini membuat kita percaya bahwa terdapat hubungan mutual antara perut dan pola pikir.</p>
<p>Aspek sosial makanan tersebut kemudian menjadi kebiasaan. Kita temukan di sini bahwa representasi pribadi menjelma menjadi representasi publik. Dan kita yang berada dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu harus juga, tampaknya, untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Bagi sebagian orang, melibatkan diri dalam proses-proses sosial terasa sangat menyakitkan. Semakin orang melibatkan diri dalam proses-proses sosial, semakin orang tersebut akan kehilangan kepribadian. Segala tingkah laku yang tidak sesuai dengan perilaku umum akan dicerca.</p>
<p>Kebiasaan dengan demikian telah menjadi semacam rintangan sosial bagi berkembangnya konsep individu. Seorang antropolog bernama Robin Fox menyatakan, rintangan sosial dalam makanan hampir sama kuatnya dengan tabu inses, yang mengatakan kepada kita tentang siapa yang boleh atau tidak boleh disetubuhi. Perihal berbagai tabu ini, Margaret Mead pernah mengutip peribahasa Guinea yang berbunyi: “Ibumu, saudara perempuanmu, babi peliharaanmu, pohon-pohon yang kau tanam tidak boleh kau makan…karena makanan milik sendiri, seperti juga kerabat perempuan ada untuk dibarter, untuk diberikan sebagai hadiah, derma, atau pembentukan aliansi, bukan untuk konsumsi pribadi.”</p>
<p>Tidak hanya Fox dan Mead, seorang antropolog lain, Mary Douglas, berpendapat bahwa setiap makanan memiliki makna tersendiri yang terlihat dalam sistem analogi repetitif (system of repeated analogies). Dalam pandangan ini, peran makanan di tengah suatu masyarakat merefleksikan struktur dan pengertian diri masyarakat tersebut. Kata Douglas, makanan adalah lapangan aksi (field of action). &#8220;Makanan adalah sebuah medium di mana berbagai tingkatan kategorisasi menjadi jelas…pilihan jenis makanan mendukung afiliasi politik dan kesempatan sosial.&#8221;</p>
<p>Dari pandangan seperti ini kita kemudian dibawa ke dalam persoalan identitas. Lewat makanan, manusia mengidentifikasi diri dengan orang lain. Dia melakukan perjuangan untuk mendapat pengakuan, agar tentu saja tidak dikucilkan. Dengan menyantap makanan yang sama, yang kemungkinan mereka tidak suka, dan menghindar sepenuhnya dari makanan-makanan enak yang masuk dalam daftar menu terlarang, perjuangan identitas pun dilakukan.</p>
<p>Berbicara masalah identitas makanan, Fox mengatakan, sama banyaknya seperti dalam fesyen, musik dan etiket. Yang paling jelas, katanya lagi, adalah makanan etnik, keagamaan dan identifikasi kelas. Makanan etnik biasanya hanya menjadi penunjuk keberadaan suatu budaya dengan bantuan kehadiran orang-orang asing. Makanan tersebut tersedia dan menjadi sesuatu yang eksotis bagi turis. Identitas keagamaan biasanya menunjukkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh untuk dimakan. Halal dan haram dalam konsep Islam, misalnya. Identitas kelas jelas menunjukkan status orang-orang yang menyantapnya. Anda tidak mungkin disebut sebagai kaum sosialita ketika Anda makan petai atau jengkol, betapa pun enaknya jenis makanan tersebut terasa di lidah. Dan sebaliknya, Anda akan disebut sebagai orang berstatus sosial tinggi ketika Anda makan kaviar, siput atau pai kentang betapa pun mungkin tidak sukanya Anda terhadap ragam makanan itu.</p>
<p>Dari persoalan identitas, kemudian akan membawa kita pada pola pemikiran. Sampai di sini dapat dikatakan, ideologi itu niscaya dalam makanan sehari-hari. Mari kita bahas persoalan ini secara lebih lanjut.</p>
<p><strong> Makanan sebagai Representasi Ideologis</strong><br />
Makanan merupakan bagian terpenting dalam hidup kita. Meski demikian, dalam setiap budaya, makanan selalu merepresentasikan lebih dari sekadar sarana untuk bertahan. Karena itulah pada tahun 2006 di India, pernah diadakan seminar tentang makanan dan ideologi. Seminar bertajuk “Food: Representation, ideology and Politics” ini menarik karena membawa pemahaman terhadap representasi ideologis makanan kita.</p>
<p>Dalam seminar tersebut dikatakan, membagi makanan, menyantap garam, roti panggang, piknik di alam bebas atau makan malam formal, semua memiliki signifikansi ideologis, politis dan sosial tertentu. Beberapa makanan ditabukan, dipilih menjadi kotor atau terlarang. Beberapa juga dianugerahi dengan kesucian atau membawa pemakannya pada tingkat kemurnian spiritual.</p>
<p>Makanan juga dapat menjadi pemicu ekspansionisme kolonial. Jalur rempah-rempah pada masa penjajahan dulu merupakan satu dari jaringan perdagangan awal. Pemberontakan dan revolusi disebabkan pula oleh ketiadaan makanan. Sedang perang dapat mengalami kekalahan total ketika jalur logistik dihambat dan tentara-tentara kelaparan. Dengan begitu makanan memiliki posisi penting dalam kehidupan. Maka wajarlah ketika orang saling membunuh karena mereka bingung akan kelangsungan hidup mereka.</p>
<p>Di antara berbagai representasi yang dapat diatributkan terhadap makanan, globalisasi dan budaya konsumerisasi ikut menambahkan dimensi baru. Di satu sisi orang disibukkan dengan cara bertingkah laku di depan meja makan (table manner) restoran, kemudian pergi ke tempat-tempat jauh di seluruh dunia untuk sekadar mencicipi ragam makanan setempat. Di sisi lain berbagai waralaba layaknya McDonald’s, Wendy’s, A&amp;W, Coca Cola atau Pepsi sering menjadi target protes anti imperialis di sekujur dunia. Hal ini menandakan dua sisi representasi makanan dari ideologi yang sama. Globalisme dan konsumerisme.</p>
<p>Budaya konsumerisme ini dapat ditemukan, misalnya, dalam acara kumpul (gathering) suatu kelompok yang berasal dari kalangan sosial atas. Kelompok ini biasanya akan berjalan-jalan ke seluruh pelosok dunia mencicipi berbagai resep nikmat untuk memuaskan lidah dan perut. Dan tidak banyak orang mempermasalahkan ini. Mungkin karena hal tersebut dilakukan oleh kalangan terbatas dan jarang mendapatkan perhatian kita (lagi pula siapa yang mempermasalahkan eksotisme?). Padahal acara gathering seperti ini, betapa pun eksotis kelihatannya, merupakan salah satu ironi kapitalisme yang kurang mendapat perhatian masyarakat di negara-negara miskin. Mereka yang kaya dapat dengan tanpa beban pergi ke berbagai pelosok dunia hanya untuk makan dan menghabiskan uang banyak.</p>
<p>Namun tidak dapat dipungkiri di balik perlakuan manusia terhadap makanan –baik orang kaya atau miskin—terdapat basis ideologi yang menyertainya. Ada kisah kuno menarik tentang munculnya cara pandang manusia. Kisah itu populer dalam ajaran Buddhisme berjudul enam orang buta bertemu seekor gajah. Enam orang buta tersebut tidak pernah sekali pun bertemu atau mendengar bentuk gajah. Kemudian dalam pertemuan itu mencoba untuk mendefinisikan gajah dengan cara memegangnya. Satu orang bilang gajah berbentuk bagai kipas raksasa, yang lain bilang pilar keras, lainnya tombak, ada lagi yang bilang ular besar, lalu juga cambuk lembut namun mematikan dan orang terakhir bilang gajah itu tidak ada karena dia tidak kebagian memegang bagian mana pun dari tubuh gajah. Ini memberi pemahaman bahwa pola pikir terbentuk berdasarkan pengalaman yang tertangkap dalam diri. Begitu pun dengan jenis makanan; hadir dan merepresentasikan pola pikir seorang manusia.</p>
<p>Jadi pertanyaannya lagi, apa ideologi dalam makanan yang Anda santap sehari-hari?</p>
<p><strong> Makanan Ilisit dan Ideologi Keagamaan: Oposisi Terhadap Barbarianisme</strong><br />
Sering dari kita, yang berada di Indonesia, disuguhi dengan label halal dalam setiap produk makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Ini dapat dipahami karena memang Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbanyak. Menambahkan label halal menjadi semacam kewajiban bagi setiap produk konsumsi tubuh. Bahkan dalam banyak kasus, berbagai produk dapat dengan mudah dijatuhkan ketika diisukan tidak halal atau diragukan kehalalannya. Kita sering mendengar produk mie ini mengandung minyak babi, biskuit itu begitulah daging ini beginilah dan sebagainya. Hasilnya hampir dapat dipastikan, produk konsumsi publik tersebut anjlok di pasaran. Nah, halal dan haram merupakan representasi dari ideologi keagamaan. Suatu jenis makanan tertentu menjadi ilisit.</p>
<p>Postulat umum dari ideologi ini, katanya, untuk menentang barbarianisme manusia melalui penetapan pola makan yang benar dan salah. Dengan alasan bahwa di masa lalu orang makan dengan cara yang hampir tidak terpikirkan di masa sekarang; seperti langsung menyantap binatang yang masih hidup atau meminum darah. Tidak diragukan, ideologi ini menjadi salah satu ideologi mapan dan belum tergantikan kekuatannya dalam pembentukan pola pemikiran manusia.</p>
<p>Tidak hanya dalam Islam, pelarangan terhadap beberapa jenis makanan banyak dilakukan juga oleh agama-agama lain. Yahudi, misalnya, menerapkan berbagai aturan ketat dalam makanan yang biasa mereka sebut Kashrut. Rujukannya sama, yaitu perintah untuk makan apa benar dan salah. Beberapa sekte Kristen memegang pula aturan ini. Hindu dan Jainisme bahkan menjalankan diet vegetarian dan menghindar dari memakan daging.</p>
<p>Jauh sebelum agama-agama muncul, beragam suku tradisional yang menganut animisme dan dinamisme juga menerapkan larangan untuk memakan mahluk alam yang dianggap berhubungan dengan keluarga atau klan tertentu (totem). Suku Aborigin di Australia punya totem-totem mereka sendiri-sendiri. Ini berbeda dengan praktik dalam berbagai agama, karena bagi suku-suku tradisional, memakan hewan totemik itu tabu, baik oleh seluruh klan maupun individu yang berhubungan langsung dengan totem tersebut.</p>
<p>Di samping ada kesadaran akan berbagai makanan tabu di berbagai agama dan kebudayaan ada juga tabu yang diterapkan secara tidak sadar terhadap konsumsi beberapa hewan. Contohnya, meski tidak ada hukum yang melarang makan daging anjing di Amerika Serikat dan Eropa, namun memakan daging hewan ini sangat tidak dapat diterima. Di negara-negara Asia Tenggara, hampir semua negara, kecuali Vietnam, jarang sekali mengonsumsi daging anjing –entah karena nilai-nilai ajaran Islam atau Buddha atau pula karena pengaruh pejuang hak-hak hewan di Filipina. Biasanya memakan daging kuda jarang dilakukan di Amerika dan Inggris, tapi sudah jadi kebiasaan di beberapa bagian benua Eropa dan dikatakan sebagai terhormat di Jepang. Beberapa komunitas menganggap daging tabu dimakan karena memang berada di luar definisi umum yang diterima sebagai jenis makanan, bukan karena daging tersebut dikatakan menjijikkan baik rasa, aroma, tekstur maupun penampilannya.</p>
<p>Meskipun makanan ditabukan secara berbeda dalam berbagai kebudayaan, beberapa otoritas negara menerapkan tabu pada makanan budaya dalam bentuk hukum. Sering kali hal ini dituduh sebagai pelecehan terhadap pola makan seseorang dan mungkin juga dianggap sebagai penindasan terhadap hak asasi manusia. Hong Kong, misalnya, meski sudah berada di bawah aturan hukum Cina, belum juga membekukan larangan terhadap makan daging anjing dan kucing, yang menjadi hukum masa kolonial. Sebagai tambahan, banyak negara, karena telah meratifikasi perjanjian internasional melakukan pelarangan memakan daging atau telur dari hewan yang hampir punah seperti paus, penyu, dan burung-burung migrator.</p>
<p>Kita tidak pernah tahu sampai sekarang bahwa daging babi itu diharamkan dalam agama semitis seperti Islam, Yahudi dan Kristen Adventis karena tidak sehat, mengandung banyak cacing pita? Atau karena alasan kesamaan bentuk jaringan tubuh dengan manusia seperti dipercaya orang-orang Papua Nugini yang sering menjadikan bagian tubuh babi sebagai xenotransplantasi, sebab organ dalamnya sama persis seperti manusia? Atau apakah babi itu ditabukan karena memang hewan menjijikkan secara bentuk (setengah tikus, setengah kucing, dan bagian lainnya anjing)? Ini menjadi aneka pertanyaan yang mungkin belum dapat dipastikan jawabannya.</p>
<p>Sebut saja babi dilarang karena mengandung penyakit. Lalu apakah menjadi haram bagi orang-orang Islam, Yahudi dan Adventis memakannya, ketika lewat kemajuan teknologi, berbagai penyakit yang ada di tubuh seekor babi dapat disembuhkan?</p>
<p>Yang jelas berbagai kalangan selalu memperdebatkan asal mula makanan tabu. Beberapa mengklaim pelarangan demi alasan kesehatan atau pertimbangan praktis lainnya, beberapa menyatakan sebagai hasil dari sistem simbolik manusia. Mungkin benar juga sebagian pendapat bahwa selama masih hewan dan tumbuhan, perdebatan akan selalu muncul. Namun, orang-orang di berbagai belahan dunia sekarang tampaknya sepakat untuk sama-sama menabukan daging manusia. Karena ini tindakan barbarik , yang tidak dapat termaafkan. Mungkin hanya dengan menabukan jenis makanan barbarian seperti itu, ideologi agama hadir tanpa menimbulkan banyak pertentangan di antara ragam pemikiran manusia moderen.</p>
<p><strong> Nutrisionisme: Kekecewaan Terhadap Tubuh</strong><br />
Nutrisionisme hadir seiring dengan kekhawatiran ilmuwan atas pola makan tidak sehat manusia modern. Pola makan tidak sehat itu, menurut mereka, pada akhirnya dapat merusak tubuh. Banyak penyakit ditimbulkan dari pola diet tidak sehat manusia. Obesitas merupakan salah satunya. Untuk mengatasi masalah ini, para nutrisionis menganjurkan pola diet sehat. Postulat mereka sederhana, namun sering disalahartikan menjadi “Kurus itu sehat dan baik, sedang gemuk itu kuno” .</p>
<p>Kemunculan nutrisionisme dapat dilacak hingga ke tahun 1970an. Ketika itu, tepatnya tahun 1977, Senat Amerika Serikat membuat Komite Nutrisi yang dipimpin oleh George McGovern. Komite ini menganjurkan agar orang Amerika menghentikan konsumsi daging dan produk susu. Sebabnya mengonsumsi jenis makanan tersebut hanya akan menimbun lebih banyak penyakit ke dalam tubuh. Namun upaya ini gagal begitu saja karena tekanan dari kalangan industri penghasil daging merah dan susu.</p>
<p>Menyamakan nutrisionisme dengan diet ekstensif sama saja dengan menyiksa tubuh, sebenarnya. Ann Althouse mengatakan, dengan mengutip Michael Pollan, menutrisi diri tidak sama dengan tidak makan sama sekali. Menurutnya yang seharusnya dilakukan adalah mengurangi porsi makan, yang sering kali tidak terkendali. “Kita selalu memiliki kecenderungan untuk makan lebih banyak meski kenyataannya kita tidak lapar,” katanya.<br />
Namun pendapat ini tampaknya mendapat tentangan dari banyak kalangan. Di dalam blog Althouse, tertulis komentar kritik yang pada intinya menyatakan, bukan masalah seberapa banyak manusia harus makan tetapi bagaimana mereka menjaga kondisi tubuh dengan olahraga. Bagaimana pun, nutrisionisme sudah menjadi pilihan bagi masyrakat moderen, yang begitu kecewa pada tubuh mereka.<br />
<strong><br />
Slow Food Vs Fast Food: Ideologi Pasar dalam Pertentangan</strong><br />
Kapitalisme memunculkan sisi buruk lain. Masyarakat konsumeris. Namun sisi baiknya ada dalam pelaku usaha yang sadar akan peluang. Ketika berbicara kapitalisme dalam konteks makanan, maka kita dapat inventarisir dua cabang besar: Slow Food dan Fast Food. Keduanya tampak saling bertentangan karena memiliki postulat ideologi yang berbeda, meski dalam penerapannya sama saja. Selalu merujuk pada pasar.</p>
<p>Fast food hadir sebagai gejolak perubahan zaman yang dituntut untuk serba instan. Karena cepatnya makanan tersebut disajikan orang tidak perlu menunggu lama untuk dapat segera mengisi perut mereka. Restoran cepat saji yang tadinya hanya merupakan ciri pinggiran kini telah menjadi gaya hidup urban. Tidak hanya remaja, orang-orang tua pun datang ke restoran jenis ini.</p>
<p>Salah satu pengkritik pedas jenis makanan cepat saji ini adalah kelompok slow food. Namanya slow tentu yang disediakan juga adalah makanan yang memakan waktu lama untuk disajikan. Postulat mereka adalah mencintai makanan tradisional dari seluruh bagian dunia. Dari sekadar penolakan terhadap ideologi cepat saji, para pecinta makanan pelan ini membentuk organisasi bernama Slow Food.</p>
<p>Jika dalam masakan cepat saji kita disuguhkan makanan tak sehat namun murah, maka dalam makanan lamban saji ini kita disuguhkan makanan enak dengan harga super fantastis. Mereka yang termasuk dalam organisasi ini sering melakukan acara kumpul dan bepergian ke tempat-tempat dengan biaya sangat tinggi. Mahalnya biaya untuk mencicipi makanan enak membuat banyak pula yang mengkritik kelompok ini. Para pengkritik mengatakan, untuk apa mencicipi makanan enak kalau hanya membuat kantong semakin kering saja. Bepergian dan cara penyajian yang lamban jelas sangat tidak praktis, menurut mereka.</p>
<p>Salah satu pengkritik ideologi slow food adalah Thomas Lifson. Menurut Lifson, acara gathering kelompok pecinta makanan lamban saji ini, hadir bersamaan dengan terkristalisasinya sebuah bentuk pemikiran dan berdiri sebagai sebuah parodi-diri. Banyak dari partisipan serius acara-acara ini, katanya, tidak menyadari berbagai ironi yang menyertai ideologi mereka.</p>
<p>Namun apa pun itu, ideologi slow food dan fast food adalah ekses dari kapitalisme yang bisa jadi saling mematikan satu sama lain . Pada fast food kita dicekik dengan pola-pola instan dan tidak sehat. Pada slow food, kita dihadapkan pada pola pikir eksotis, yang sungguh asing dari realitas hidup sehari-hari.<br />
<strong><br />
Vegetarian, Pasifisme dan Kaum Kiri</strong><br />
Adakah ideologi kiri makanan kita? Seiring dengan ragam pemikiran manusia, satu jenis makanan sering diasosiasikan dengan suatu kelompok tertentu. Dalam hal penganut diet vegetarian, sering dilekatkan dengan makanan kaum pasifis kiri. Disebut kiri karena mereka sering menjadi oposan terhadap segala bentuk ketidakadilan dunia. Itu postulat mereka. Apakah benar, saya kurang tahu? Yang jelas kaum pasifis ini telah membawa banyak perubahan terutama pada ketimpangan dalam sistem internasional.</p>
<p>Pada awalnya, vegetarianisme merupakan anjuran agama-agama timur seperti Hindu dan Buddha. Namun ketika gelombang eksotisme timur merebak di barat pada tahun-tahun 1970an melalui gerakan kaum hippies, vegetarianisme menjadi salah satu pola diet populer. Jika agama-agama timur menganjurkan vegetarianisme dengan alasan keyakinan akan reinkarnasi , maka kelompok ini menjalankan diet vegetarian dengan satu tujuan: mencoba berseimbang dengan alam. Prinsip ahimsa yang dianut mereka, menunjukkan bahwa mereka ingin agar alam tetap dalam keadaan stabil, seimbang dan tanpa ketidakadilan. Prinsip ini juga menunjukkan adanya upaya melawan dengan menggunakan sarana-sarana non-violence (tanpa kekerasan).</p>
<p>Di antara berbagai kelompok vegetarian tersebut, yang paling berpengaruh adalah Greenpeace dan Food Not Bombs. Dua-duanya sama-sama pasifis dan sama-sama kiri. Aksi-aksi mereka juga sama-sama radikal. Namun tulisan ini hanya akan memfokuskan diri pada kelompok Food Not Bombs, mengingat gerakan ini sangat menarik diperhatikan.</p>
<p>Food Not Bombs merupakan kelompok independen yang tidak memiliki aturan ketat dalam organisasinya. Mereka menyediakan makanan vegan dan vegetarian secara gratis kepada orang lain. Ideologi Food Not Bombs mengklaim perusahaan besar dan pemerintah sangat berkepentingan untuk membiarkan kelaparan di tengah keberlimpahan.</p>
<p>Untuk melawan hal ini, serta demi mengurangi biaya, kelompok ini kemudian menyediakan banyak makanan dari sisa makan toko-toko grosir, bakeri dan pasar-pasar swalayan. Dengan menggunakan makan dari sini, mereka mencoba untuk memberi makan semua orang lapar. Setiap bagian dari jaringan kelompok ini mengumpulkan makanan lebih dari toko dan restoran, terkadang juga dari tempat pembuangan, lalu menyediakannya menjadi makanan komunitas dan siapa pun yang merasa lapar boleh menyantapnya.</p>
<p>Kelompok ini meyakini bahwa jika pemerintah dan berbagai perusahaan di seluruh dunia menghabiskan waktu dan energi untuk memberi makan kepada setiap orang seperti yang mereka lakukan untuk perang maka tidak akan ada seorang pun yang kelaparan. Keyakinan ini didorong dari postulat bahwa ada cukup kesediaan makanan, namun terbuang begitu saja sebagai hasil langsung kapitalisme dan militerisme. Yang paling penting dari ideologi mereka adalah makanan vegan itu baik sekaligus anti-kekerasan.</p>
<p>Selain itu mereka mencoba untuk membangkitkan kesadaran terhadap kemiskinan dan para tuna wisma di masyarakat dengan membagikan makanan di area publik dan memfasilitasi perkumpulan orang-orang miskin, tuna wisma dan orang-orang tersisih. Ada empat doktrin utama dari filosofi Food Not Bombs: (1) mendaur ulang makanan; (2) pengambilan keputusan melalui konsensus; (3) anti-kekerasan; dan (4) vegetarianisme.</p>
<p>Food Not Bombs bermula di awal 1980an di Cambridge, Massachussets, Amerika Serikat. Mereka merupakan aktivis anti-nuklir yang menyemprotkan grafiti bertuliskan “Money for food, not for bombs” di seluruh pelosok kota. Slogan tersebut kemudian dipersingkat menjadi “Food Not Bombs”, dan akhirnya menjadi nama kelompok mereka. Tidak lama setelahnya, mereka memutuskan untuk menjadikan slogan mereka ke dalam praktik nyata. Pada sebuah pertemuan para eksekutif bank kaya, yang membiayai proyek nuklir Seabrook, kelompok ini muncul dan mulai membagikan makanan gratis kepada 300 kerumunan massa tuna wisma. Aksi ini sukses. Kegiatan bagi-bagi makanan itu menjadi kegiatan reguler.</p>
<p>Di akhir tahun 1980an, Wilayah Dua Food Not Bombs dibentuk di San Fransisco. Wilayah ini harus mendapat tentangan keras dari dua walikota San Fransisco, Art Agnos dan Frank Jordan. Agnos menginisiasi konfrontasi dengan menggunakan polisi huru hara untuk menutup kegiatan Food Not Bombs. Meski pun mereka ditahan ratusan kali, kelompok ini tetap melaksanakan kegiatannya. Dengan menggunakan peliputan media, mereka berhasil mendapatkan dukungan masyarakat. Kemudian ketika Frank Jordan menjadi pengganti Agnos, rangkaian penahanan anggota Food Not Bombs berlanjut. Pada saat ini jaringan mereka mulai melebar ke seluruh dunia.</p>
<p>Di akhir tahun 1990an Wilayah-Wilayah Food Not Bombs terlibat dalam Gerakan Anti-Globalisasi, resistensi terhadap APEC di Vancouver 1997, Karnaval Internasional Melawan Kapitalisme pada 18 Juni 1999 dan aksi paling terkenal menentang pertemuan World Trade Organisation (WTO) yang sering disebut “Battle in Seattle”. Aksi terakhir bahkan mampu membuat pertemuan tersebut batal.</p>
<p>Pada tahun 2002-2003, Food Not Bombs juga terlibat dalam aksi anti-perang untuk menentang invasi ke Irak tahun 2003. Saat ini Food Not Bombs sudah memiliki sebanyak hampir 200 wilayah di seluruh dunia, dengan struktur yang tidak ketat. Karena keputusan organisasi dibuat berdasarkan kebutuhan namun dengan nilai-nilai yang sama, dan berkarakter anarkis, sering kali kelompok Food Not Bombs ini disebut sebagai “Organisasi Waralaba Anarkis”.</p>
<p>Yang menarik, setelah munculnya aksi-aksi terorisme, dalam sebuah presentasi di Universitas Texas, Austin, pada tahun 2006, pejabat divisi penanggulangan terorisme dari FBI melabel Food Not Bombs dan berbagai kelompok independen lainnya sebagai memiliki kemungkinan koneksi dengan teroris. Nah, ini membawa kita pada persoalan baru, apa hubungannya makananan dengan terorisme? Adakah ideologi kekerasan dalam makanan?</p>
<p><strong><br />
Ideologi Takfiri: The Terrorist in Secret</strong><br />
Pertanyaan di atas penting dijawab karena hal tersebut akan membawa kepada permasalahan identitas. Meski tidak langsung berhubungan dengan makanan, namun ternyata ada kelompok teroris yang menggunakan ide asimilasi untuk melancarkan serangan kepada pihak-pihak tertentu. Sebab mereka dapat berasimilisi dengan baik, mereka hampir jarang dikenali. Salah satu dari sekian banyak organisasi teroris adalah Takfiri, sebuah kelompok ekstremis Islam yang berasal dari sekte Salafi.</p>
<p>Kelompok ini sangat eksklusif. Salah satu pengikut terkenalnya bernama Ahmad Rabei, berasal dari Mesir. Menurut penelitian jurnalis BBC, Peter Taylor, Takfiri adalah sebuah kelompok berbahaya. Taylor memperkenalkan nama Takfiri, dalam sebuah seri televisi BBC tahun 2005 berjudul “The New Al Qaeda”.</p>
<p>Ideologi Takfiri, menurutnya, selain menuntut pembunuhan terhadap setiap non-muslim, juga pembunuhan setiap muslim yang bertentangan dengan tujuan mereka. Kelompok Takfiri ini sering dianalogikan dengan Khawarij, sebuah gerakan teroris abad ketujuh Masehi yang melakukan perang dengan khalifah Ali Ibn Abi Thalib.</p>
<p>Uniknya, ideologi Takfiri tidak terikat dengan aturan keagamaan biasa menyangkut pemeliharaan janggut, meminum alkohol, atau memakan daging babi, ketika dianggap bahwa larangan tersebut akan mengganggu efektifitas jihad mereka. Bagi kelompok Takfiri, kepatuhan ketat terhadap berbagai hukum tersebut akan membuat terhentinya aksi klandestin mereka dalam perjuangan membela Islam. Dengan menggunakan cara-cara asimilatif kelompok ini dapat mengorganisir, merencanakan dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan jihad tanpa berisiko dapat dikenali, diintervensi atau dicegah.<br />
<strong><br />
Bukan Kesimpulan</strong><br />
Bagi sekelompok orang (awam), makanan tetap saja makanan. Ada untuk mengisi kekosongan perut. Tapi bagi sekelompok lainnya, ternyata makanan tidak sekadar menjadi makanan. Makanan tidak lagi dianggap sebagai murni sarana mempertahankan hidup. Makanan merupakan sarana berkolasenya ragam pemikiran manusia. Dalam makanan kita temukan pilihan gaya hidup, afiliasi sosial, politik dan ideologis tertentu. Makanan dengan demikian menjadi representasi kehidupan, baik individu maupun kelompok.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=37&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/menu-kita-hari-ini-ideologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Euthanasia</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/euthanasia/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/euthanasia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[short story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[“Sudah lama kita tak bertemu, Bi!” Arti membuka percakapan. “Setelah tiga puluh tahun. Ya, setelah tiga puluh tahun!” Mereka berpandangan. “Apa yang kau kerjakan selama ini?” kembali Arti. Yang ditanya, Bias, hanya menatap. Senyum menghias bibir. Diam. Senja temaram. Bias berjalan ke depan ke belakang, diiringi pandangan Arti yang syahdu. “Pada hari ketika musik kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=21&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Sudah lama kita tak bertemu, Bi!” Arti membuka percakapan. “Setelah tiga puluh tahun. Ya, setelah tiga puluh tahun!”</p>
<p>Mereka berpandangan.</p>
<p>“Apa yang kau kerjakan selama ini?” kembali Arti.</p>
<p>Yang ditanya, Bias, hanya menatap. Senyum menghias bibir. Diam. Senja temaram. Bias berjalan ke depan ke belakang, diiringi pandangan Arti yang syahdu.</p>
<p>“Pada hari ketika musik kita mati, kau kemana?”<br />
Bias tetap tak menjawab. Arti perempuan tua keras kepala. Tidak menganggap diam Bias sebagai hinaan. Dia terus bertanya dan terus bertanya. Bias, tetap saja diam.</p>
<p>“Kau masih ingat janji kita? Kala itu kita akan bertemu di taman ini tiga puluh tahun lagi,” kenang Arti. “Dan di sini, tiga puluh tahun kemudian, aku tak bisa percaya. Sungguh! Aku tak bisa percaya, kita bertemu lagi.”</p>
<p>Bibir keriput Arti terus tak habis mengeluarkan suara. Bias mondar-mandir di hadapannya dan sesekali tersenyum. Diam. Tak menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan Arti. Tiga puluh tahun bukan waktu yang sedikit. Bertemu teman lama tentu memerlukan keberanian khusus. Apa lagi setelah tiga puluh tahun.</p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p>Waktu tiga puluh tahun lalu, Arti dan Bias mengucap janji di taman ini, taman bunga Raflessia. Sekeliling taman itu batu. Berlumut dan bau. Sama seperti bunganya. Bau. Saat itu usia mereka sekitar tiga puluhan tahun. Begitu muda. Begitu cantik. Matang. Entah bagaimana ceritanya sampai mereka bertemu dan akrab. Tapi di taman bunga ini, mereka saling berjanji, bertahan hidup untuk bertemu tiga puluh tahun lagi.</p>
<p>“Kau ragu, Bi?”</p>
<p>Bias semakin mempercepat langkah mondar-mandirnya. Senyum masih memenuhi bibir. Diam. Sepertinya sudah jadi ciri khas. Namun Arti memang luar biasa. Sedikit pun emosinya tidak meledak. Pertanyaan-pertanyaan tak berjawab tidak dianggapnya sebagai pengabaian.</p>
<p>“Kau ragu, Bi?”</p>
<p>***</p>
<p>Gerimis membasahi tangan Arti. Gerimis membasahi hidung Bias. Padahal ini bulan Juli. Musim panas. Tak mungkin hujan turun. Tapi seperti gerak dunia yang tak ajeg, apa yang tidak mungkin terjadi selalu saja tiba di hadapan mata kita. Gerimis berubah hujan. Sedikit. Sedikit. Lalu deras. Hujan membasahi tubuh mereka. Petang berganti malam. Lampu taman terang. Membuat bayangan dua sosok tubuh. Laki-laki dan perempuan tua yang sejak sore tadi menduduki taman itu.</p>
<p>“Kau ragu, Bi?” masih saja Arti dengan pertanyaan yang itu-itu juga. Bias berhenti bergerak. Duduk. Masih diam, menghadap Arti.</p>
<p>Matahari sudah lama tenggelam. Bintang dan bulan jelas tak muncul di awal malam ini. Hujan begitu deras. Berdua, mereka tak bergeming. Bau Raflessia menyebar. Menusuk hidung mereka. Di depan, di belakang, di kiri, di kanan mereka, tak ada seorang pun. Sunyi. Mereka sepi di taman ini. Arti terus berbicara seakan ingin menguji kesabaran. Seperti ingin menguji kesabaran Bias juga kesabarannya.</p>
<p>Tiga puluh tahun lalu, Biaslah yang banyak bicara. Arti hanya jadi pendengar. Waktu itu, hanya satu kalimat dan sepucuk surat diberikannya pada Bias. Setelah itu, mereka lenyap. Tidak lagi bertemu atau berbicara. Satu kalimat terakhir Arti, menghilangkan kesempatan sua. Hari ini, datang ke taman ini, Bias tak pernah tahu alasan. Dia hanya ingat, bahwa hari ini dia harus datang. Sesuatu membawa kakinya untuk melangkah ke taman ini.</p>
<p>“Hari makin malam, Bi. Sudah waktu. Sudah waktu.!” suara Arti tercekat di tenggorokan. Seakan memohon. Seakan menginginkan sesuatu. Bias tidak sanggup berkata. Untuk memandang saja, harus berjuang keras. Sudah waktu, kata Arti dan memang sudah waktu, pikirnya.</p>
<p>Senyumnya tak lagi menghias bibir. Dilihatnya Arti mulai melucuti pakaian. Sudah waktu, kata Arti dan memang sudah waktu, pikirnya. Dilihatnya tubuh Arti telanjang. Tubuh keriput itu telanjang di hadapan mata keriput Bias. Sudah waktu, dan memang sudah waktu!</p>
<p>***</p>
<p>Tubuh telanjang tanpa hadangan bayang terpampang. Semakin Bias memandang tubuh itu, semakin dia diam. Dan hujan semakin deras. Arti merasakan gelisah Bias. Tapi perempuan tua keras kepala ini tidak mau menutup suara. Bicara dan terus bicara.</p>
<p>“Aku ingin mati bersama hujan!” seru Arti. “Bukankah sudah kukatakan semua, tiga puluh tahun lalu, dalam suratku. Kau pasti membacanya! Datang kemari membuat kau bersepakat denganku. Jangan tunda lagi!”</p>
<p>Bias memasukkan tangan ke dalam jasnya. Kali ini dia tak dapat lagi mengelak. Memang sudah waktu. Memang sudah waktu dia melakukannya. Sekali lagi dipandangnya Arti. Tubuh tua telanjang. Gemetar kehujanan. Bibirnya, matanya, hidungnya, lengannya, dadanya, perutnya, pahanya, kakinya, semuanya keriput. Geletar berharap putusan.</p>
<p>Bias pun melangkah, mendekati Arti, perempuan keriput yang berdiri tenang. Tanpa ketegangan. Jarak mereka dekat dan semakin dekat. Mata Bias di mata Arti. Hidungnya di hidung Arti. Bibirnya di bibir Arti.</p>
<p>“Jangan kau kira aku suka melakukan ini,” desah Bias di kuping perempuan yang dulu cantik itu.</p>
<p>Belati menancap. Sorot Arti penuh sinar. Kemudian redup. Goyah, lalu mencium tanah. Dadanya mengucurkan darah.</p>
<p>***</p>
<p>Pada tanah basah di waktu hujan musim panas di taman Raflessia ini, tubuh Arti kaku. Tak bernyawa. Penyesalan: tidak tampak penyesalan di wajah mati itu. Dari sejak dia memutuskan untuk mati, sudah tak ada lagi yang disesalinya. Cukup. Hidupnya sudah cukup. Segala beban telah dilepaskannya. Segala beban itu dia lepaskan bersama hujan. Mati adalah pilihan dan dia memilih cara mati yang berkesan. Itulah yang menjadi keinginannya. Satu kali dalam hidupnya dia gunakan untuk memilih; satu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Satu kali hidup itu, dia gunakan dengan bebas.</p>
<p>Bias terdiam. Tak ada yang lebih disesalinya selain bertemu lagi dengan Arti. Tiga puluh tahun hidupnya terbuang sia-sia. Lebih menyakitkan lagi, karena dia tak mampu memilih. Sungguh berat bertemu teman lama, setelah tiga puluh tahun. Sungguh berat, apa lagi pertemuan itu untuk mempersembahkan kematian.[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=21&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/euthanasia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Emansipasi Prometheus</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/emansipasi-prometheus/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/emansipasi-prometheus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:32:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[minor narrative]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Raksasa baik hati itu bernama Prometheus. Putra Iapetus dan Themis, bersaudarakan Atlas, Epimetheus dan Menoetius. Ketidaksukaannya pada para dewa membuatnya nekad, mencuri api Zeus dan memberikannya pada manusia. Api itu bukan sembarang api. Api itu adalah api keabadian, yang mampu membuat manusia setaraf dengan para dewa. Prometheus adalah pelopor emansipasi. Jika di masa moderen Marx [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=17&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-25" title="200px-Koeln_wrm_1044" src="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/200px-koeln_wrm_10441.jpg?w=200&#038;h=280" alt="200px-Koeln_wrm_1044" width="200" height="280" /></p>
<p>Raksasa baik hati itu bernama Prometheus. Putra Iapetus dan Themis, bersaudarakan Atlas, Epimetheus dan Menoetius. Ketidaksukaannya pada para dewa membuatnya nekad, mencuri api Zeus dan memberikannya pada manusia. Api itu bukan sembarang api. Api itu adalah api keabadian, yang mampu membuat manusia setaraf dengan para dewa.</p>
<p>Prometheus adalah pelopor emansipasi. Jika di masa moderen Marx begitu gencar menyuarakan emansipasi manusia, maka Prometheus adalah sokogurunya. Tanpa Prometheus, tidak mungkin ada Fanon, atau Garcia Lorca, Bunuel, Derek Walcott, Said, Spivak, maupun Julia Kristeva. Prometheus mengawali pergerakan-pergerakan menuju pembebasan.</p>
<p><span id="more-17"></span></p>
<p>Mitos Prometheus pertama kali muncul di akhir abad 8 Sebelum Masehi dalam puisi epik Hesiod, Theogony. Di puisi itu, Hesiod memperkenalkan Prometheus sebagai penantang kehadiran dan kekuasaan Zeus. Di Sicyon, kota persembahan tempat berpadu manusia dan dewa, Prometheus meliciki sang Dewa tertinggi. Ia menempatkan dua pengorbanan di atas Olympia. Zeus dikadali. Persembahan indah tampakan luar dipilihnya, tapi ternyata tidak berharga sama sekali.</p>
<p>Zeus murka. Merasa dicurangi, Zeus pun menghukum manusia dengan menyembunyikan api dari kehidupan. Tidak akan ada lagi pengorbanan di Olympia. Sebab tidak ada api untuk membakar makanan-makanan persembahan. Sebagai balasan, Prometheus mencuri api Zeus untuk dikembalikan kepada manusia. Tahu kalau Prometheus sudah mencuri apinya, Zeus kemudian menghukumnya. Diikatlah Prometheus di atas sebuah batu besar. Setiap hari seekor elang raksasa diperintahkan Zeus memakan hatinya. Setiap hari pula hati Prometheus tumbuh layaknya semula untuk lalu dimakan lagi oleh sang elang. Prometheus dikutuk menjadi abadi. Sebabnya pasti. Dia sudah mencuri api immortalitas para dewa.</p>
<p>Kisah Prometheus ini mengisyaratkan perjuangan. Melawan tiran. Sebuah perjuangan dengan jalan panjang berliku dan memerlukan tidak sedikit pengorbanan. Seperti kata Milan Kundera, kita berjuang melawan kekuasaan untuk melawan lupa. Karena kita sering dilupakan oleh apa yang namanya kekuasaan. Kekuasaan menadirkan kita. Ke titik nol. Tidak mampu bergerak juga bersuara. Kita lupa bagaimana cara berkehendak. Prometheus membuka jalan itu. Jalan menuju perlawanan atas lupa. Api yang dicurinya sampai kini masih tertanam di jiwa manusia-manusia sadar. Ya, kesadaranlah yang kita perlukan. Dan manusia sadar itu sesungguhnya adalah Prometheus sejati. Dewa tertinggi saja ditentangnya. Apalagi tiran biasa.</p>
<p>Kenapa kita takut bahkan pada seekor semut?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=17&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/emansipasi-prometheus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/200px-koeln_wrm_10441.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">200px-Koeln_wrm_1044</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menafsir Api Hermes</title>
		<link>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/menafsir-api-hermes/</link>
		<comments>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/menafsir-api-hermes/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mirzajakasuryana</dc:creator>
				<category><![CDATA[minor narrative]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakgerik79.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Jika Prometheus pencuri api, maka Hermes adalah penciptanya. Api itu, tercipta dari tangannya, dewa paling muda di antara dewa-dewa Olympia. Ia adalah putra Zeus dari Pleiade Maia, putri Atlas. Memiliki putra bernama Hermaphroditus (putra yang kadang disebut putri sebab kemampuannya berganti kelamin), hasil hubungannya dengan Aphrodite, dewi tercantik di seluruh jagat raya mitologi Yunani. Disebut-sebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=13&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-28" title="130px-Hermes-Lawrie-Highsmith.jpeg" src="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/130px-hermes-lawrie-highsmith-jpeg2.jpg?w=130&#038;h=310" alt="130px-Hermes-Lawrie-Highsmith.jpeg" width="130" height="310" /></p>
<p>Jika Prometheus pencuri api, maka Hermes adalah penciptanya. Api itu, tercipta dari tangannya, dewa paling muda di antara dewa-dewa Olympia. Ia adalah putra Zeus dari Pleiade Maia, putri Atlas. Memiliki putra bernama Hermaphroditus (putra yang kadang disebut putri sebab kemampuannya berganti kelamin), hasil hubungannya dengan Aphrodite, dewi tercantik di seluruh jagat raya mitologi Yunani. Disebut-sebut sebagai rasul para dewa. Penghubung titah penguasa dan hamba. Dewa dan manusia.</p>
<p>Sosoknya dijadikan keramat para kelana, orang licik, perampok dan juga intelektual. Hermes sering dinamai dewa pembawa mimpi. Orang-orang mati banyak yang kembali untuk meminta panduannya melintasi dunia lain. Sebab ia termasuk salah satu dewa, selain Hades, Persephone, Hecate dan Thanatos, yang mampu datang dan pergi dengan bebasnya dari dunia bawah, tempat kehidupan manusia setelah mati dalam tradisi Yunani kuno.</p>
<p><span id="more-13"></span></p>
<p>Meski dewa termuda, Hermes adalah yang terpintar di antara lainnya. Ia juga dikenal sebagai patron para atlet. Melalui tangannya tercipta bermacam bentuk permainan olahraga. Nama panggilannya banyak, merujuk pada segala keahliannya. Salah satu yang terkenal adalah Argeiphontes, pembantai Argus, yang mengingatkan pada keberhasilannya membunuh raksasa seribu mata, Argus Panoptes, penjaga tempat suci Ratu Hera. Sebab ia juga memiliki keahlian sihir, Hermes mampu memanterai seluruh mata Argus agar tidak membuka sehingga dengan mudah ia membantai sang raksasa. Seribu mata Argus itu kemudian ditempatkan di ekor burung merak, perlambang dewi Hera.</p>
<p>Logios adalah nama panggilan lainnya. Nama ini dinisbatkan sebagai representasi dewa yang fasih berbicara, dewa orator. Hermes bisa disetarakan dengan Athena, representasi ilahiah kefasihan dalam sejarah Yunani klasik.</p>
<p>Sebagai rasul dari dewa untuk manusia, yang berbagi peran dengan Iris, Hermes menjadi penafsir yang menjembatani pemahaman orang-orang atas makna asing. Maka disebutlah penafsir sebagai hermeneus. Kata hermeneutika juga mengingatkan kita pada seni menafsirkan makna tersembunyi. Dalam banyak hal, Hermes mengajarkan kita bagaimana cara menjadi jembatan antara dua pemahaman berbeda. Dua dunia. Wajah dan hati. Sampul dan isi. Surfase dan substansi. Jadi, kenapa kita tidak pernah bisa saling memahami? Padahal begitu mudah. Padahal semuanya hanya soal perbedaan persepsi. Dan persepsi tidak perlu disatukan. Persepsi hanya perlu untuk dibincangkan. Biarkan tafsiran menjadi milik kita yang paling pribadi. Sebab Hermes hanya menafsir, bukan memaksakan tafsiran.</p>
<p>Ah, mungkin kita terlalu jauh keluar jalur. Sehingga penafsiran kita melenceng tak termaafkan. Api yang diciptakan Hermes itu harus kita curi. Agar tafsiran kita soal dunia tidak terlalu kabur dari makna sesungguhnya. Terkadang, kita memang perlu untuk menjadi Prometheus. Sang pencuri api.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakgerik79.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakgerik79.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakgerik79.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakgerik79.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakgerik79.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakgerik79.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakgerik79.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakgerik79.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakgerik79.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakgerik79.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakgerik79.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakgerik79.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakgerik79.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakgerik79.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakgerik79.wordpress.com&amp;blog=9352170&amp;post=13&amp;subd=gerakgerik79&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakgerik79.wordpress.com/2009/09/06/menafsir-api-hermes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9858c5fe6d075a087fb044674b89c23b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mirzajakasuryana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerakgerik79.files.wordpress.com/2009/09/130px-hermes-lawrie-highsmith-jpeg2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">130px-Hermes-Lawrie-Highsmith.jpeg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
